Perpisahan Bukanlah Akhir Persahabatan

Puisi Akhir Perpisahan Persahabatan
Dulu, saat renda-renda kasih masih terjalin syahdu di gitar-gitar yang kupetik
Begitu erat kau genggam tanganku, mengikat setiap sendi-sendi dari jari-jariku yang rapuh
Seandainya tubuhku tak berbalut kulit, mungkin darahmu dan darahku akan menyatu
kini kau menjadi seseorang yang pernah kukenal

aku tiba-tiba menjadi seseorang asing di tengah derai tawamu
berbalut gaun indah dan berbungkus megah hiruk pesta
kau bahkan tak menolehku sejenak

Aku memang tak lagi membutuhkan cintamu
telah ada hati yang kini memilikiku
dan aku senang ketika semua berakhir
di antara kita

Perpisahan, bagiku, bukanlah akhir dari sebuah persahabatan
tak bisakah kita menjadi seperti teman yang bisa bercanda
atau setidaknya, aku bisa bertanya tentang kepalamu yang sering berdenyut
atau aku bertanya ibumu yang keadaannya sering memburuk
atau mungkin juga kau bertanya tentang masa depanku yang sering mengerutkan keningmu

Sebenarnya, aku begitu juga kau, terlalu muda untuk mengenal semua kerikil-kerikil yang bertabur di rel-rel kereta kenangan kita
Tak usah kau simpan tiap jumput memori-memori indah yang pernah kita tanam
sebab hanya akan mengoyak tawa yang kau siram
sebab hanya akan mengubah derai gelak menjadi derai tangis yang dalam

Biarlah, aku mengenangmu sebagai orang yang pernah aku kenal saja
aku akan menyimpan segenap rindu pada sebotol anggur kosong
lalu menghanyutkannya ke laut tak bernama
agar aku dan kau tak pernah lagi saling menyapa

Klik Untuk Melanjutkan >>Perpisahan Bukanlah Akhir Persahabatan

Di Kamar Pemilik Rindu

Kami adalah pemilik rindu yang berdiam diri di kamar pengap
bersusun-susun menghitung hari ke belakang
mengintip detik, menit dan hari-hari serta tahun-tahun yang terbengkalai untuk sekedar menunggu
Menunggumu!
Di Kamar Pemilik Rindu
Ya, kami hanya menunggu sepatah ucap
menunaikan seikat harap yang kami letakkan di sudut bibirmu
kami bukan pengemis, hanya terlalu sabar menanti jawab

Kami adalah sekumpulan wajah-wajah cemas
yang menanti dengan rindu
rindu sekali
pada tatap tatap teduh yang biasa kau sajikan di setiap perjamuan, setiap pertemuan

Disini, di kamar pemilik rindu ini biasanya kami rebah menatap langit-langit
bercengkerama dengan terpaksa
bercerita tentang gadis-gadis pujaan yang entah sampai kapan menggantung sapu tangan biru
di depan pintu, semoga bukan hanya sebagai penghapus pilu nan ngilu

Kamar ini adalah labirin yang memenjarakan orang-orang seperti kami
tak ada celah untuk keluar
bahkan melihat cahaya semesta
kami terperangkap, di kamar yang kau sediakan buat menunggu
padahal kami hanya menungg satu
Jawabmu!

Tentang cinta yang kami tawarkan
tentang kasih sayang yang kami obral ke depan matamu
lalu kau hanya tersenyum, melempar desis
melukis luka, di dada
Klik Untuk Melanjutkan >>Di Kamar Pemilik Rindu

Hanya Kamu yang Bisa

Iya, Hanya Kamu yang bisa
melukis senyum terbaik dalam sejarah percintaan
beberapa kali ada awan memayungi pandanganku, menghalangi mataku menatapmu
beberapa kali pula kuundang angin menyapu aral serupa portal
kau, jangan melangkah terlalu jauh sebab aku terlalu lemah untuk mengejar jejakmu
Bukan, sebab bisa saja hujan mengikis kenangan yang telah kita ukir
dan kau bisa berlalu tanpa lagu, menunggu bisa saja membunuhku
lalu senyummu membuat aku tergugu lugu

Sebab hanya kamu yang bisa menafasi setiap udara yang kuhirup
kamu pula yang mampu melepaskan nadi-nadi yang terpasang renggang diantara jemariku
Hanya Kamu yang Bisa
Dulu, ada sepasang jurang ternganga di depan mata ingin aku memasukinya
mencari damai yang telah lama hanya sebagai mimpi
kemudian kau datang membawa secawan janji, semangkuk mimpi, secangkir harap
kau ingat betapa lebar aku tersenyum menatap bening sepasang kornea di depanku
tidak, aku menatap jauh ke dalamnya, disana ada hati yang meneduhkan dan menenangkan

hanya kamu yang bisa menenun tali harap yang hampir terputus
menyambung rajutan angan yang sempat tertinggal

Tapi aku yakin, ada cinta yang mampu memanggilmu kembali
meski engkau telah berlayar begitu jauh ke samudra yang tak kukenal
ada cinta terindah yang kupunya yang bisa menarikmu kembali ke pelukku
Ya, Ke pelukku!
Klik Untuk Melanjutkan >>Hanya Kamu yang Bisa

Teman, Damailah Disana

Aku tak mungkin merutuk pada benda-benda yang beterbangan menyambar-nyambar kepingan tubuhmu
darah yang masih segar berserakan bersama deru tangis dan jerit kengerian.
tak terhitung jumlah ucap yang menerjemahkan luka
tak berbilang isak yang mengabarkan duka
Itulah senja terakhir yang kau tatap

Aku masih ingat dengan kenangan-kenangan pahit yang sempat kita lalui bersama
itu adalah kenangan puluhan tahun lalu
kenangan yang kini telah kau bawa, entah kau tinggalkan saja tanpa menitipkannya

Kita adalah bukti nyata tentang kejamnya dunia
kita fasih bagaimana membunyikan perut kerempeng tanpa isi
bertahun, ya bertahun

Entah kenapa jarak dan waktu memisahkanmu dariku begitu jauh
jauh hingga kau tak mampu kujenguk meski hanya sesekali

Adalah ego, adalah dendam, adalah ambisi
adalah benci, adalah caci, adalah maki
tercampur di hidangan kita yang masih ingusan
yang tak mampu membedakan, putih dan hitam

Lalu kau pergi di magrib, saat surya ingin membenahi peraduannya
gagak-gagak hitam yang menyanyikan lagu mengiringimu
entah mengapa aku tak mereka kabari

kini, aku hanya menyimpan lembar-lembar lusuh tentang masa lalu kita
ku tata rapi di memoryku
selamat jalan, moga damai di sana!




RIP. Sepupuku yang meninggal di penghujung senja. Maafkan aku dan masa lalu kita yang terlalu getir untuk dikenang.
Klik Untuk Melanjutkan >>Teman, Damailah Disana

Sayang, Cinta Ini Putih

Cinta ini seputih salju pada dongeng-dongeng yang diceritakan ibu melalui buku lusuh tentang peri-peri dari negeri antah berantah. Hanya saja beberapa kali kita mencoba, dengan sengaja atau tidak mewarnainya dengan biru langit, hitam amarah atau coklat asmara.

Cinta ini seteduh pohon berdaun lebat yang ditanam ayah di depan rumah beberapa tahun yang lalu. Katanya itulah cinta sejati yang meneduhkan. Daunnya hijau, menyejukkan mata kita. Membersihkan paru-paru yang kerap terkotori sekam dendam. Bara curiga atau nyala praduga.

Sayang!
Perasaan ini semurni embun yang perlahan jatuh di subuh hari. Bulir-bulirnya mendinginkan jiwa-jiwa yang tercekoki tuak penghapus kesadaran. Sayangnya mentari terlalu pagi datang, embun-embun beterbangan ke awan. Berulang kali aku berusaha mengejar, mengepakkan sayap yang kau beri. Tapi aku harus menunggu esok. Mereka pasti kembali. Mereka tak akan ingkar ikrar. Aku yakin.

Sayang!
Cinta ini tetap putih meski ada gelisah yang perlahan-lahan menjelma embrio. Benih-benihnya kerap kau tanam di antara gurat-gurat masalah, di antara kita. Ingin aku menggugurkannya sebelum ia terlahir. Tapi kunanti ia, sehebat apa dia bisa merobohkan tugu rindu ini.

Cinta ini putih, seputih awan-awan yang berjenak-jenak jenaka melukis wajahmu. Hingga senja adalah ruang yang kutunggu untuk menatapmu. Di langit. Kadang ia berubah jingga, bila aku terlambat. Kadang ia berubah kelam bila hujan ingin hadir. Mencium bumi.

Akh. Anggap saja cinta ini putih bahkan jika aku kehabisa bahasa, merayumu!
Klik Untuk Melanjutkan >>Sayang, Cinta Ini Putih

Kubiarkan Kau Pergi

Sejak cintaku tak lagi mampu menahan lajumu
yang berlalu menyapu bersama angin
seperti biasa aku lelah dan bersujud pasrah
sebab tanah terlalu basah untuk kutumpu pijak
dan dirimu seolah temali liar yang menarikku ke segala arah

Kasih, maka kubiarkan kau pergi ke dunia lepas
bersama ego yang selama ini kau hunjuk-hunjuk di depan mataku
aku sayu
aku layu
dan padam bersama amarah yang basah
serupa api tercebur lindap
bagaikan tangis tertahan megap
dan aku gagap
Puisi kehidupan, puisi patah hati
siapa nama kekasih yang mencurimu dariku
yang kau sebut memiliki segunung rindu padamu
dia adalah manusia terkasih terhebatmu
kau mungkin lupa
kau menyebut kalimat yang sama padaku, pernah, dulu, di suatu ketika

di waktu detak-detak jam masih kita hitung bersama
di saat rintik-rintik gerimis kita eja di halaman berdua
tidak kau ingat di masa itu jemari-jemari kita tak pernah bisa melekang
kau dan aku terhanyut pada sebuah rasa tanpa puncak

itu dia datang
dengan kereta kencana dari kutub
dia bisa terbang dan melambungkanmu ke langit ke delapan
dia mampu memelukmu dengan dekap terhangat yang cairkan alaska
ia sanggup patahkan seluruh aral yang memagari semua mimpiku, seperti aku

Tapi ingat sayang
bilang padanya jangan berlari terlalu kencang
awan bisa saja mengeras
angin bisa saja memutingbeliungkan rindu kalian

seperti badai yang tengah berkecamuk di hatiku kali ini
maka kubiarkan kau pergi
Klik Untuk Melanjutkan >>Kubiarkan Kau Pergi

Cerita Hati

Aku punya sebuah cerita hati yang selama ini tersembunyi
kutaruh di balik dada, terbungkus berlapis iga
hari ini aku ingin bernyanyi dan menari
tentang rasa yang tengah membahana

Kasih, padamu ada cerita yang terpendam
yang tak mampu kuungkapkan
sebab aku terlalu kecut bila kata cinta disebut
sebut saja aku kekasih yang penakut

Ini cerita cinta yang terlalu indah untuk kubagi
izinkan kusimpan saja sebagai hiasan hati
lalu biarkan aku menari-nari di bawah hujan
menikmati tetes demi tetes cinta yang menetas

Akh, tapi rasa ini terlalu murni
aku takut nanti kau kotori
apa mungkin harus kubunuh saja
agar nantinya tidak ada kata kecewa

akh lamunanku menggila
anganku menyesakkan dada

sementara kau tetap berdiri di sana.
mematung!
ingin kupahat namamu
atau kukutuk kau jadi patung?
Klik Untuk Melanjutkan >>Cerita Hati